Cinta Bahasa Indonesia

Apa yang menyebabkan rusaknya Bahasa Indonesia?
Jawab :
Rusaknya bahasa Indonesia disebabkan oleh semakin berkembang zaman. Seiring berkembangnya waktu, pemakaian bahasa Indonesia dalam kehidupanan sehai-hari mulai bergeser atau memudar digantikan dengan pemakaian bahasa Indonesia modern atau yang biasa disebut dengan bahasa “gaul”, yang struktur kosakatanya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baku.
Di era globalisasi ini penggunaan bahasa gaul semakin meluas dan terus muncul kosakata-kosakata baru yang membuat eksistensi bahasa Indonesia menjadi menurun. Tentu saja ini semua disebabkan oleh media-media seperti televisi, internet, majalah. Faktor inilah yang banyak menyebabkan rusaknya kebakuan bahasa Indonesia dan menyebabkan bahasa Indonesia modern lebih cepat menyebar dan mempengaruhi masyarkat yang ada atau yang menggunakan media tersebut. Hal ini dapat dilihat melalui kalangan remaja dimasa sekarang yang banyak menggunakan bahasa agaul, bahasa alay, dan sebagainya. Contoh lainnya yaitu mencampur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa yang lainnya seperti bahasa Inggris. Sehingga ini tidak sesuai dengan kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal semacam ini harus dipehatikan, karena bahasa Indonesia merupkan identitas bangsa Indonesia yang seharusnya dijaga dan sebagai generasi muda Indonesia sudah seharusnya menyadari tanggung jawab untuk menjaga eksistensi bahasa Indonesia.
Di sisi lain, terdapat juga juga dampak positif dari era globalisasi yaitu bahasa Indonesia mulai dikenal oleh dunia Internasional. Dibuktikan melalui adanya beberapa Universitas diluar negeri yang mejadikan bahasa Indonesia menjadi salah satu mata kuliahnya.
Hal ini menjadi cambukan bagi bangsa Indonesia agar lebih memperdulikan dan mencintai serta bangga terhadap bahasa kita sendiri yaitu bahasa Indonesia karena jika rusak bahasa maka rusak juga pemikiran. "Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa. Bahasa merupakan satu perkara dengan dunia pemikiran dan cita rasa. Kalau orang itu kacau pikirannya, bahasanya juga kacau. Bahasa dan hidup, dunia pemikiran dan dunia rasa itu satu. Nah, kita bisa saksikan karena pendidikan bahasa dalam sistem pendidikan sekarang ini kurang, maka cara mereka berpikir juga kacau. Caranya menghayati, merasakan juga ikut kacau."
"Jangan lupa, Republik Indonesia ini merdeka sampai diakui oleh dunia internasional itu karena pemikiran dan memakai bahasa, bukan memakai bedil (senapan). Orang sering mengira bahwa negara kita merdeka karena bedil, itu kurang tepat. Coba pikirkan, andaikan Soekarno-Hatta tidak melakukan diplomasi, juga seandainya Sutan Sjahrir ulu di PBB tidak bisa membela rakyat Indonesia di depan Dewan Keamanan? (Romo Mangun Wijaya, 1982).
Kutipan di atas menyadarkan kita akan pentingnya sebuah bahasa bagi kehidupan manusia. Manusia menjadi unggul dari makhluk lain karena kemampuannya berbahasa. Kalau jangkrik bisa mengerik, kambing bisa mengembik, dan kuda bisa meringkik, maka manusia mampu berbicara sebagai "animal longuens", makhluk yang mampu berbicara dan mengungkapkan isi hati dan pikiran lewat bahasa serta rangkaian yang dapat dimengerti, baik melalui lisan, tulisan, maupun isyarat lain.
Ada percobaan tentang anak kera dan bayi yang lahir bersamaan dan diasuh secara sama menunjukkan fakta yang menakjubkan. Semula keduanya berkembang hampir sama, bahkan berkat instingnya, kera berkembang lebih cepat. Namun, ketika sang anak manusia mulai dapat berbicara, ia maju sedemikian pesat dan tidak pernah terkejar lagi oleh kera.
Kecepatan perkembangan manusia ini kemudian menjadi titik tolak kemajuan yang menakjubkan. Yulis Widiantoro (1994) menyatakan, "Ketika seseorang mulai berbicara, mengenal bahasa, seakan-akan terbukalah bagi manusia baru untuk mengenal dunia dan hidup di dalamnya. Karena, dengan kemampuan berbahasa terbukalah kesempatan baginya untuk menciptakan hubungan banyak sekali; bisa mengekspresikan diri, menyerap ilmu pengetahuan, dan tukar-menukar gagasan yang hampir tidak terbatas. Bahkan berkat bahasa, manusia masuk dalam dunia dan memiliki dunia karena biasanya diiringi dengan prestasi intelektual luar biasa." Sedangkan menurut ahli bahasa dari Jerman, Gadamer, bahasa merupakan cara kita untuk mengerti dunia.
Penjelasan ini setidaknya membuat kita sadar; betapa "tragisnya" bangsa kita dalam kemampuan berbahasa secara "baik" dan "benar". Ada kecenderungan kuat generasi muda kita kurang berminat terhadap kajian-kajian bahasa, sastra, dan ilmu humaniora. Generasi kita -- akibat tuntutan orang tua atau kurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah bahasa -- lebih suka berkonsentrasi pada ilmu-ilmu eksak atau ilmu yang bersifat pragmatis, semisal ilmu akuntansi, teknik, atau bidang-bidang yang sifatnya terapan sebagai pelengkap fungsi kerja.
Ilmu bahasa? Belajar bertutur secara baik? Mencoba menulis karya? "Ah, itu hanya buang-buang waktu."
Jangan heran kalau kemudian generasi kita tidak bisa berbuat banyak dalam memajukan dunia pengetahuan. Sebab, rusaknya bahasa juga berarti rusaknya pemikiran.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku
:
Intisari, September 2005
Penulis
:
Faiz Manshur
Penerbit
:
PT Intisari Mediatama, Jakarta 2005
Halaman
:
166 -- 167







Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Morfologi

Sejarah Singkat Bahasa Indonesia

Kongres Bahasa Indonesia